Friday, September 16, 2016

Memberdayakan Diri Menghadapi Persalinan

Awalnya aku gak ngerti kenapa Bidan Silmy memotivasi aku terus buat "berdayakan diri", bukan buat "lahiran normal". Ternyata emang harus berdayakan diri: menyiapkan fisik dan mental. Singkatnya jadi ibu hamil yang fit, bahagia, dan positive thinking supaya siap saat persalinannya entar. 

Disclaimer: banyak link video youtube mengenai persalinan yang aku sertakan disini yang mungkin gambarnya kurang cocok bagi sebagian kalangan. Educational purposes only ya!
 

Berikut ini kegiatan pemberdayaan diri yang disarankan oleh bidan Silmy dan aku lakukan selama kehamilan trimester kedua sampai akhir...


Check up obgyn secara rutin. USG untuk cek kondisi bayi, posisi, dsb. 

Jalan santai 15-30 menit sehari, kalau deket lahiran bisa ditambah durasinya, dilakuin juga waktu sore, dan jalan cepat (durasi pendek aja dan wajib atur napas dgn baik!)

Yoga/pilates. Aku dulu yoga aja soalnya pilates ga sanggup karena lebih berat hahaha. Yoga prenatal yang sering aku ikutin dari youtube channel bidankita, yang biasanya aku ikutin yang ini dan ini . Gerakannya gampang diikuti kok, tapi lebih baik ada yang nemenin kalau mau yoga. Biasanya aku yoga sekitar 15-20 menit sehari, dan mulai yoga dari hamil 32 minggu.

Latihan-latihan untuk mengoptimalkan posisi bayi.
Waktu itu sempat posisi bayi melintang (harusnya kepala di bawah) jadi perbanyak sujud/ posisi nungging dengan dada menyentuh alas. Waktu itu aku melakukan gerakan ini 5 x 10 menit sehari sampai posisi bayi bagus di pemeriksaan selanjutnya. Latihan ini juga untuk bayi sungsang.

Knee chest untuk mengoptimalkan posisi bayi. Sumber : http://wartakesehatan.com

Usia kandungan di atas 36 minggu aku latihan 7 Easy Exercises for An Optimal Pregnancy & Labor supaya bayi dalam posisi bagus dan optimal menjelang persalinan (Perhatian: harus sepengetahuan dokter kandungan/bidan yaa)



Senam hamil di RS. 
Aku senam di RSIA deket rumah, bisa jalan kaki. Sebenernya senam di rumah pun bisa, banyak di youtube. Senengnya senam di RS itu karena sbelum mulai, bumil-bumil diperiksa BB, tensi, detak jantung bayi, dan dipantau ada kontraksi/belum kalau hamil  di atas 37 minggu. Juga bisa kenalan, cerita-cerita, dan bagi tips sama bumil yang lain.

Latihan birthball  
Trimester 2 akhir aku mulai coba main birthball ini. Kadang aku sekedar duduk doang di atasnya, ternyata lebih nyaman daripada duduk di kursi/sofa (maklum hamil besar segala posisi kayanya ga enak haha). Latihan birtball dapat meningkatkan aliran darah ke rahim, plasenta dan bayi. Cek manfaat penggunaan birthball di sini.
  
Selain itu, menurut beberapa referensi yang aku dapat, menjelang persalinan (saat kontraksi dan tahap2 pembukaan) baiknya kita selalu dalam kondisi yang relax, supaya hormon oksitosin yang membantu persalinan juga tinggi. Salah satu caraku biar tetap relax selama menjelang persalinan adalah duduk di birthball ini sambil pelvic rocking/goyang inul. Cek video: LABOR POSITIONS - BIRTHING BALL 



Duduk di atas birthball. Sumber: www.bidankita.com

Tetap memberdayakan diri menjelang persalinan
Berikut beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk memberdayakan diri jelang persalinan (First Phase, Sekitar pembukaan 1-8). Lakukan bareng suami supaya makin rileks. Cek video: LABOR POSITIONS - FIRST PHASE 


• Latihan napas
Ini nih yang sangat penting dilatih dan dibiasakan selama hamil. Menjelang dan saat persalinan penting untuk bisa ngatur napas panjang dan napas pendek. Apa manfaatnya? Menjaga ke-rileks-an saat datang kontraksi dan tetap memberi oksigen untuk bayi. Yang penting untuk dilatih yaitu bernapas secara efektif dengan pernapasan perut atau belly breathing. Latihan Belly Breathing for Labor and Coordinated Pushing ini berguna banget untuk mengkoordinasikan napas, otot-otot yang terlibat, dan tenaga saat mengejan. Latihan napas juga bisa dilakukan saat kegiatan fisik (jalan, yoga) dan saat afirmasi. 

• Afirmasi gentlebirth
"Buat apa afirmasi ini? Toh kalau udah mules juga gak bakalan inget". Salah itu :))) 

Tiap hari pas jalan pagi hirup udara segar, aku dengerin afirmasi gentlebirth dari Bidan Yesie Aprillia ini sambil latihan napas. Hal ini juga aku rutin lakukan sebelum tidur. Lagi-lagi untuk menjaga ke-rileks-an :)

• Mengetahui gambaran proses melahirkan. 
Tanda2 mau melahirkan, apa yang akan terjadi (pada bayi dan ibu) ketika mengalami kontraksi dan pembukaan-pembukaan. Dsb. Mengetahui gambaran proses melahirkan bermanfaat ketika saat persalinan, kita bisa ngebayangin (visualisasi) apa yang terjadi sama kita dan bayi kita. 


• Menyusun birthplan
Birthplan itu isinya kita pengen gimana sih saat melahirkan. Mau ditemenin siapa, suasananya kayak apa, tindakan medis apa yang  mau dan tidak mau, dsb. Memang harus belajar dulu gambaran persalinan kayak apa. Kalau bisa dibilang aku waktu itu niat banget menyaingi pengetahuannya bidan, haha. Karena yang mau melahirkan itu aku, jadi jangan sampe aku blank gatau apa-apa ngelewatin salah satu masa terpenting dalam hidup, gituuu... tapi pada prosesnya aku pasrahkan pada mereka yang kompeten membantu persalinan :)


Idealnya, birthplan diketahui calon ibu, calon ayah, dokter/bidan yang akan menangani, dan seluruh keluarga. Tapi waktu itu yang tau birthplanku cuma suami dan mamaku, dan aku cari RS yang mendukung birthplan-ku. 

• Komunikasi dengan janin. 
Gak sekedar ngobrol, tapi komunikasi dari hati ke hati, cieee. Haaha. Dan paling penting mempercayai bayi. Di awal aku cerita kalau sempet gak percaya sama namanya insting calon ibu dan bayi. Tapi komunikasi dengan janin, kalau kita rasakan dengan halus, it really works! Aku juga aneh sendiri, hehe. Ternyata bayi itu pinter, mereka punya insting dan feeling yang kuat. Terlebih dengan ibu yang mengandungnya, mereka punya ikatan kasat mata yang sangat kuat!


Klo boleh cerita sedikit (perasaan emang tulisan ini cerita mulu deh, wkwk) dulu sempet galau nentuin tanggal ayahnya Ai pulang, karena ayah kerja di Kalimantan kan. Dari sekitar tiga bulan sebelum hari perkiraan lahir, aku mulai intensif komunikasi sama Ai, “Lahirnya nunggu ayah di sini ya. Kita main dulu ya sama ayah”. Terus kita memutuskan ayah Ai ambil cuti 2 minggu sebelum hari perkiraan lahir tanggal 12 Mei 2016, yang waktu itu usia kandunganku 38 minggu. Kita sempet jalan-jalan dulu masuk minggu ke 39. Waktu itu juga ayah ada panggilan tes kerja di tanggal 11 Mei 2016. Kita rajin banget bilang sama Ai “Ai ayahnya mau tes kerja, Ai lahir sebelum tanggal 11 ya nak ya biar ayah bisa ikut tesnya”. Dan Ai lahir di tanggal 10 Mei 2016, hampir tengah malam menuju tanggal 11. Baby is all Amazing.



Apapun cara melahirkan, sesungguhnya...

Berbekal sedikit pengetahuan tentang gentlebirth, waktu itu aku bertekad mempersiapkan persalinan di RS dengan upaya gentlebirth dengan pemberdayaan-pemberdayaan diri yang aku ceritakan di atas. Waktu itu aku belum pede buat gentlebirth beneran macam Ayudia-Ditto yang melahirkan bayi Sekala di klinik Bumi Sehat Bali (dan akhirnya mereka inspired by natural and relaxing birthing process, jadi kepengen kan hehe). 

Sebenarnya, mau bagaimana pun metode persalinannya, penting banget ketika kita tahu apa yang akan terjadi pada diri kita menjelang, saat, dan pascapersalinan. Karena proses persalinan itu bakal ngelewatin fase transisi (pembuksaan 8-lengkap) yang rasanya…asli deh…kepikiran macem2, emosi yang labil banget, dan panik. Padahal aku udah latihan supaya tenang dan gentle, tapi tetep aja ketika lewatin fase transisi itu aku panik dan gak sabaran. "Kapan keluar? Kapan sakit ini hilang? Apa ini perlu dioperasi aja?" Padahal awal2 masih bisa afirmasi positif, ngatur napas, udah tau tentang tahapan persalinan, tapi pas ngalamin itu bisa lupa diri ada di tahap mana, wkwk. InsyaAllah buat adiknya Ai (kalau dikasih kepercayaan sama Allah buat hamil lagi nanti, aamiin), bakal coba buat gentlebirth yang sesungguhnya. 

Sampai hari ini kalau ingat persalinan suka senyum-senyum sendiri (habis itu berkaca-kaca), dan bersyukur. Betapa indahnya proses ketemu kamu, Ai :)

Dan buat semua ibu, saya jatuh cinta sama kalian, apapun cara kalian melahirkan... karena melahirkan itu perjuangan yang indah, banget :")


---

Mudah2an yang aku sharing ada manfaatnya ya. Spesial Terima Kasih Tak Terhingga untuk  Bidan Silmy Salasabyla yang membimbing dan selalu menenangkan aku selama hamil sampe sekarang :") Alhamdulillah aku dan suami banyak banget ngerasain manfaatnya setelah diajarin soal gentlebirth sama Bidan Silmy. Makasih banyak Emiii :)))
 
Mohon maaf kalau banyak kekurangan dalam penulisan ini. Makasih yang udah sempetin baca tulisan saya yang banyak curhatnya ini :D Semoga lancar persalinannya bagi yang sedang mempersiapkan.
Be healthy always, ibu-ibu dan para calon ibu:)






Hamil dan Persiapan Melahirkan


Bismillah.


Kali ini aku mau berbagi pengalaman menjalani kehamilan dan menghadapi persalinan. Kali ini tulisanku agak panjang karena saking banyaknya yang mau dibagi. 


Awal mulanya, saat udah tau hamil aku langsung deg2an ngebayangin persalinan. Denger cerita dari temen2 yang berprofesi sebagai bidan, banyak banget kisah pas lagi kontraksi menjelang persalinan. Konon, saking sakitnya kontraksi, sang ibu bisa teriak-teriak, nangis-nangis, bahkan beringas gak kekontrol. Duh.. sesakit apa ya melahirkan, sampe (buatku) ngebayanginnya agak menakutkan. Apalagi buat aku yang tergolong parnoan. 



Finding "gentlebirth"
Kebetulan aku punya temen yang berprofesi sebagai bidan, namanya bidan Silmy. Dari awal rencana hamil, aku banyak konsul sama bidan Silmy. Nah, dia ngenalin aku sama gentlebirth. Gentlebirth berarti kelahiran secara lembut, yang natural dan minimal trauma baik bagi ibu, bayi, dan seluruh keluarga.  Aku suka banget sama filosofi gentle birth, dimana persalinan yang lembut dan natural bisa menciptakan pribadi (yang terlibat persalinan) damai dan tenang. 


Kenapa penting seperti itu? Karena kelahiran adalah suatu fase yang sangat transformasional. Bayangin coba, diri yang tadinya bebas mau ngapain aja, setelah melalui proses persalinan langsung berubah, ada seseorang yang sangat bergantung kepada kita. Dan yang paling penting, tatanan suatu keluarga bisa berubah drastis ketika datang satu anggota baru, sang bayi :)



Bidan Silmy ngerekomendasiin aku buat baca kisah orang2 yang sukses dengan gentlebirthnya di sini di blog itu aku nemuin juga pengalamannya Dee Lestari yang melahirkan anak kedua dengan gentlebirth. 

Tapi jujur...
AKU KETAKUTAN DULUAN! Hahaha... Karena cerita2 di situ kebanyakan gentlebirth di rumah. Ada yang waterbirth, penundaan pemotongan tali pusat (lotus birth), bahkan lahiran tanpa mengejan. Kok bisaaaa? Pokoknya minim intervensi medis deh, karena mengandalkan insting sebagai ibu dan mempercayai bayi.  Pikirku kok "melahirkan natural" aneh di jaman sekarang. Kayanya gak aman deh, pikir aku waktu itu.


Tapi aku masih penasaran sih, jadi lanjut cari-cari referensi. Akhirnya aku ketemu tulisan yg ubah cara pandang aku. Gentlebirth ternyata bisa diaplikasikan dimana aja (melahirkan di rumah, bidan, atau RS), melalui metode melahirkan apa saja (partus normal atau caesar section sekalipun). Dan inget ibu mertuaku bisa selamat ngelahirin 3 putranya di rumah tanpa banyak intervensi medis, jadi kupikir itu juga bisa disebut gentlebirth :)


Menemukan referensi mengenai gentlebirth sedikit menghapus rasa takutku menghadapi persalinan.

Lalu harus bagaimana mempersiapkan diri menghadapi persalinan? 

Simak di postinganku
Memberdayakan Diri Menghadapi Persalinan