Monday, January 2, 2017

Curhatan tentang ASI (2)

Berhubungan dengan posting saya sebelumnya tentang penggunan susu formula. Kuatirnya ada yg salah kaprah saya nggak mendukung ASI eksklusif, hehe.

Penggunaan sufor, dapat berdasarkan indikasi medis atau keputusan sang ibu sendiri untuk memberi anak sufor. Dan dua2nya menurutku ga ada yang salah, karena sekali lagi, no judgement, setiap ibu insyaAllah berusaha yg terbaik buat anaknya.
Nah, untuk Ai, saya hanya menggunakan sufor sebagai "susu bantu". Indikatornya Ai terus gelisah dan tidak nyenyak tidur siang malam. BB menurun (bayi ASI 10% BB nya di 4 hari pertama adalah hal normal). Ai pun sempat kuning.

Saya gunakan sufor "seminimalis" mungkin. Selama Ai masih bangun dan minta menyusu, saya selalu kasih. Setiap kali minta mimi, akan saya kasih ASI, bukan sufor. Di seminggu pertama Ai, setiap malam Ai minum sufor 30mL, untuk mengantarnya tidur nyenyak. Saya coba sedikit demi sedikit kurangi, berkurang gak setiap malam Ai minum sufor. Sampai usianya kira-kira 1 bulan, Ai benar2 lepas sufor, sampai sekarang (dan insyaAllah 1.5thn lagi😊).

ASI tetap yang terbaik ya. Kenapa saya pakai susu bantu sufor? Kalau saya punya donor ASI, yg saya ketahui riwayat kesehatan sang ibu, dan secara syar'i memenuhi.. Tentu saja saya pilih ASI donor. Tapi kenyataannya gak mudah mendapatkan ASI donor (bagi saya).
Memberi sufor ke Ai pun saya merasa sangat bersalah dan menambah pikiran saya. Seperti lingkaran siklus, stress tsb bikin ASI saya terus seret. Dan hal itu bikin saya semakin stress (babyblues).

Sampai akhirnya saya lebih "ikhlas" memberi susu bantu untuk Ai. Tapi karena itu saya jadi lebih rileks, dengan tetap ngotot mau perjuangkan ASI, dan dukungan orang2 sekitar saya...lalu ASI saya jadi lebih banyak. Alhamdulillah 😊
Bagi saya (dan Ai) waktu itu, sufor adalah pertolongan pertama paling mungkin kami dapatkan.

Bersyukur buat ibu2 yg ASInya deras sampe muncrat2 sejak awal menyusui 😁 itu hal yg harus disyukuri, bukan untuk dibandingkan dgn ibu lain apalagi disombongkan hhi 😊

Mungkin hormon laktasi satu ibu lebih banyak dari pada yg lain, di saat bberapa tubuh lainnya perlu penyesuaian pasca melahirkan lebih lama.

Mungkin booster ASI yg diperlukan satu ibu cuma makan yg banyak atau dibuat seneng sm pasangan, tapi ada juga yg harus usaha lebih keras minum suplemen ini itu.

Mungkin beberapa ibu bisa dari awal merasakan nikmatnya mendengar suara "glekglek" ASI yg melalui kerongkongan bayinya, namun beberapa lainnya harus menunggu beberapa waktu untuk merasakan hal yg sama 😊

Dan..baby blues itu ga enak 😁 dan siapapun bisa kena, bahkan yang siap. Saya merasa sudah memberdayakan diri dgn banyak baca, namun ternyata kenyataannya tidak semudah yg tertulis di buku, hehehe.

Saya share pengalaman ini, karena sepertinya saya gak sendiri :) Semangat ya ibu. pastikan selalu berusaha buat happy, misalnya melalui sharing.. cari orang yg kira2 "paham" dengan kondisi yg sedang kita jalani.

Kunci lancar ASI (setidaknya bagi saya) adalah rileks dan ngotot! Kalau kalian? Mungkin punya cara yg beda.. 😊

Oya, satu lagi. Ada kata2 sahabat saya yg bikin saya rileks  banget (dan ngaruh ke produksi ASI saya 😍) setelah melalui masa2 sulit...

"Sempet ngasih 'susu bantu' sufor bukan berarti gagal ngasi ASI. Sekarang lihat ke depan..Bayangin yg akan kita lalui 2 th ke depan perjuangin ASI buat anak.."

Pasti bisaaa kasih ASI buat anak! Karena menyusui adalah hal yg sangat alamiah, ikatan kuat tak kasat mata antara ibu-anak 😊

Buat yg gak berhasil ngasih ASI juga gapapa (ya, menyusui bener2 perjuangan!) rileks aja.. insyaAllah pasti diusahakan yg terbaik utk anak, buat (banyak) hal lainnya 😊

Percayalah, setiap ibu punya usaha masing2. Tinggal kita dukung dan doakan. Apalagi sesama ibu, we should stick together, yeay!😊

Curhatan tentang ASI (1)

Dulu waktu baru2 lahiran, setiap kali ditanya "ASI kan?"
Rasanya kaya penghakiman πŸ˜…
Iya, dulu ASI saya tidak langsung mengalir dengan deras pasca lahiran.
Teori yang saya baca, bahwa ada lonjakan hormon laktasi pasca lahiran, PASTI akan membuat tubuh ini menghasilkan ASI.

ASI saya keluar, tapi tidak banyak. Ai yg waktu itu newborn tidak pernah tidur nyenyak karena lapar. Baik malam atau siang.
Ai pernah tidak bisa tidur sampai pukul 3 dini hari dengan mulutnya yg tak berhenti menghisap. Akhirnya bisa tidur saat saya kasih Ai 30 mL susu formula.

Pernah Ai kelaparan tapi sangat mengantuk. Dia mengisap, berhenti tertidur, terbangun lalu mengisap lagi, tertidur lagi... sampai pukul 2 dini hari. Akhirnya bisa tidur setelah saya bantu dengan 30mL susu formula.
Saat mengalami kejadian ini, saat saya memberi Ai susu formula...saya merasa sangat berdosa. Bersalah. Karena "tidak memberinya ASI eksklusif". Karena Ai "terkontaminasi" sufor.

Tapi, saya sadari belakangan.. saya merasa lebih menyesal lagi.. kenapa "susu bantu" itu harus saya tunda diberikan kpd Ai. Kenapa saya harus menunggu sampai dini hari untuk membantunya tidur?? :( Pernah denger seorang ibu yg anaknya masuk NICU karena dehidrasi. ASInya belum keluar tapi sang ibu keukeuh gak mau pake susu bantu. Duh, hampir saya seperti itu :( Susu formula bukan racun kok :) justru sangat membantu di awal kelahiran Ai, sampai ASI saya akhirnya (dengan perjuangan dan kengototan niat) keluar dgn lancar untuk Ai.
Berandai2 jika saja saya mempersiapkan diri lebih baik untuk menyusui (asupan gizi, perawatan bagian tubuh, dll), dan saya tidak mengalami hal "seret ASI" jadi gak perlu babyblues.. eh tapi ga boleh ya berandai-andai 😁

Alhamdulillah sampe sekarang Ai masih dicukupkan kebutuhan ASInya. Dan masih mimi ASI, insyaAllah sampai 2 tahun nanti... Betapa menyusui itu harus "keras kepala", tapi jangan sampai kita punya "standar tinggi" anak kita harus ASI esklusif, sedangkan keadaannya tidak seideal itu.
Intinya setiap ibu pasti berjuang kasih yg terbaik buat anak.. jangan ada penghakiman karena kita ga tau apa yg dilalui setiap ibu dan anak :) Semangat jadi #pejuangASI 😊😊😊